QS. 34;
Saba ayat 15-17
Sepantasnyalah, tiap detakan jantung, tiap helaan nafas, dan tiap denyutan nadi
dijalani dengan Asma Allah, dengan tawakkal kepada Allah dan dengan pengakuan
tiada daya dan kekuatan kecuali karena karunia Allah semata.
Pada zaman dahulu ada sebuah negeri yang bernama saba’ Allah menjamin mereka
dengan air yang jernih, sedap dan sejuk.Allah melimpahi mereka dengan
buah-buahan yang manis, lembut dan harum. Allah mencukupi mereka dengan
biji-bijian yang halus dan berserat, berukuran kecil dan besar, serta mudah
dioilah dan awet disimpan.
Allah menyediakan bagi mereka melalui ternak-ternaknya daging yang lezat, susu
yang sehat, dan minyak yang pekat. Dan Allah mengaruniakan kepada mereka
pakaian indah dari bulu domba yang dipintal menjadi wol dan serat kapas yang
ditenun menjadi katun.
Mereka hidup di Negeri yang amat baik, dengan penuh kesyukuran. Sementara Tuhan
mereka Maha Pengampun atas segala dosa, selama tidak mempersekutukannya dengan
sesuatu apapun juga. Tetepi… kemudian mereka bepaling dan ingkar dari tauhid
yang murni dan lurus, serta mengkufuri nikmat dan membanggakan dosa-dosa,
karena merasa sudah bisa apa saja, dan dengan mudah kemana-mana. Lupa bahwa
semua itu adalah karunia dari Allah yang maha pemurah. Maka Allah menimpakan
mushibah kepada mereka dalam bentuk kesusahan, penderitaan dan kesempitan, agar
mereka mau kembali untuk merendahkan diri dihadapan-Nya yang Maha Pemberi.
Karena nikmat telah membuat mereka lupa diri dan berpaling, semoga mushibah
menjadi jalan untuk insyaf,
karena sentosa telah membawa alfa, semoga kesusahan menyadarkan lalainya.
Lantaran bersebab kenikmatan telah melahirkan amal durhaka semoga penderitaan
bisa membuat mereka bertaubat.
Sebab kelapangan hanya diisi dengan kesia-siaan dan membuang buang waktu,
semoga kesempitan membuat mereka mau mengisi hidup mereka dengan penuh makna.
Dari keadaan sebelumnya anak adam yang dicurahi kenikmatan karena beriman,
berubah menjadi manusia ingkar dan diliputi kemalangan. Iman yang berubah jadi
kufur mendatangkan bencana bagi negeri yang semula makmur.
Jika sudah demikian Mentari yang bersinar bukan lagi untuk menerangi hidup
melainkan mengeringkan dan membunuh. Langit menurunkan hujan bukan lagi menjadi
sumber pangan dan kehidupan, melainkan menyebabkan longsor dan banjir genangan
yang menebarkan wabah racun dan penyakit.
Sesungguhnya pengakuan atas ketidakberdayaan dihadapan Yang Maha Perkasa adalah
sumber kekuatan yang tak pernah kering, tak pernah habis, dan tak pernah
berakhir, serata tak ada batasanya.
Allah berfirman dalam surat 34; Saba ayat 15-17 yang artinya:” Sesungguhnya
bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua
buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan):
"Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah
kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan
Yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada
mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun
yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari
pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran
mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu) melainkan hanya
kepada orang-orang yang sangat kafir”.