Rabu, 26 April 2017

SAMBUTAN BESAN DALAM PERNIKAHAN WAWAN SOPIYAN DAN FITRI AWIYAH LUBUKLINGGAU 26-04-2015

Bandar bukan sembarang bandar, bandar bernama bandar lampung
Nyandar bukan sembarang nyandar, sebagai besan kami berkunjung
Lubuk bukan sembarang lubuk, kawan lubuk bernama lubuk linggau
Mabuk bukan sembarang mabuk, wawan mabuk karena hati terpukau

Saya Masnurdin Tanjung mewakili keluarga besar dari lampung, 
Merasa amat tersanjung, karena amanat terbeban di punggung, 
Untuk memberi sambutan di atas panggung, 
Di hadapan tamu pengunjung, 
Agar silaturrahim dua keluarga besar tersambung. 
Semoga tidak ada yang tersinggung, 
Karena kami merasa canggung, 
Semoga pernikahan ini tidak tersandung, 
Dan hajatan kita bisa rampung.
Anak kami wawan sopiyan dari Tanjung karang, 
ibarat seekor kumbang yang terbang melayang layang, 
Rupanya telah menemukan kembang, 
Yang begitu jauh di negeri orang. 
Ketika dia bertanya dengan bimbang, 
saya jawab dengan lantang, 
Sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang, 
Jangan sampai cinta bercabang, yang biarkan harapan tumbang.
Rupanya kembang yang ditemukannya di sebuah lubuk yang bernama lubuk linggau itu adalah seorang putri yang bernama fitri 
Hatinya riang tiada terperi, karena Allah telah memberi, 
Untuk pasangan sang bidadari, seorang jomblo idaman hati, 
Yang akan dijadikan cinta sejati, tempat curahan isi hati, 
Teman untuk sehidup semati, yang telah lama dinanti nanti. 
Wawan sopiyan dan fitri awiyah, semoga menjadi pasangan yang sakinah, membangun mawaddah dan rahmah, dengan kasih yang melimpah dan sayang yang tercurah, mahabbah yang berdasarkan ridha Allah, demi menjalankan sunnah Rasulullah. Ya Allah Berilah keduanya berkah, biarkan cintanya merekah, agar rumah tangganya indah, dan jangan sampai mereka terpisah, selamanya bersatu padu, bahagia rasanya bagai madu, Fitri Awiyah jangan sampai dimadu, karena sekarang ada pepatah baru lebih baik dimadu dari pada tidak laku.

Dari lubuk hati yang paling dalam kami sampaikan kepada besan kami bahwa anak kami wawan ini tidaklah bergelimang harta, bukan pula seorang yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah semata-mata, karena itu kami titipkan wawan ini kepada keluarga besar bapak Ajituwi, untuk memberikan bimbingan dan arahan kepadanya, apa bila ada sesuatu yang tidak terletak pada tempatnya, maklum wawan ini masih muda, darah belum setampuk pinang, umurpun belum setahun jagung, Ilmunya masih dangkal dan pengalaman masih sedikit. Sedangkan perjalanan hidup masih panjang dan penuh dengan riak dan gelombang.
Selanjutnya kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar besarnya kalau ada sikap dan perilaku dari rombongan kami yang kurang berkenan dihati, yang tidak sesuai dengan kebiasaan di sini, karena lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, dan lain daerah lain kebiasaannya.

Kepada wawan dan fitri, sebenarnya ananda berdua adalah mahasiswa kesayangan saya, sudah seperti anak saya sendiri, maka saya nasehatkan kepada ananda agar pandai-pandailah menyesuaikan diri, baik antara ananda berdua, maupun antara dua keluarga besar. Walaupun selama ini sudah saling kenal, tapi masih banyak sekali yang belum ananda ketahui tentang pasangan ananda. Bangunlah mahligai rumah tangga dengan cinta karena Allah, dan tetaplah berbakti kepada orang tua, jalani liku-liku kehudupan dengan saling pengertian, saling memahami, saling bertoleransi, saling menerima apa adanya dengan tidak memaksakan kehendak sendiri. Kalau anda bijaksana dalam membangun menara cinta maka rasanya bisa lebih manis dari madu, tapi kalau ananda terburu nafsu menuju pantai impian, maka rasanya akan lebih pahit dari empedu. Yang paling penting adalah jangan sampai ada dusta di antara ananda berdua.
Serasi nian penganten kito ni 
Wawan sopian bersama fitri
Hidup kesepian tanpa kekasih 
Cukup sekian dan terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar